Rabu, 12 Januari 2011

Darier's Disease

PENDAHULUAN

Darier's disease dilaporkan pertama kali secara terpisah oleh Darierl dan White pada tahun 1889 dan adalah gangguan yang diturunkan secara dominan autosom dengan prevalensi sekitar 1 dalam 100 000. Onset terjadinya jarang sebelum pubertas. (1,2,3,4)

Ditandai oleh papul berminyak hiperkeratosis pada daerah-daerah seborrheic, kelainan kuku, dan perubahan membran mukosa. Merupakan gangguan genetik yang jarang terjadi dengan manifestasinya terutama pada perubahan kulit. Darier's disease dikenali karena adanya bercak gelap berkrusta pada kulit, terkadang mengandung nanah. Lesi ini dikenal sebagai papul keratotik sehingga penyakit ini dikenal juga sebagai keratosis follicularisis. Menyerang pria dan wanita. Bukan merupakan suatu penyakit menular atau penyakit alergi. (1,2,3,4)

Darier's Disease merupakan penyakit kulit kronis. adhesi keratinosit yang abnormal dan keratinisasi epidermal berlebihan adalah gambaran histologis utama dari Darier disease. biasanya Darier disease didiagnosa berdasarkan gambaran klinisnya dan kejadiannya dalam keluarga, namiun seringkali keliru dengan gangguan kulit lainnya. Untuk diagnosis nya mungkin memerlukan biopsi kulit. Pasien dengan Darier disease mengalami pruritus dan terkadang nyeri pada daerah kulit yang terkena. Konsekuensi Psikososial akibat dari penampilan dan bau yang diakibatkan oleh lesi juga menyumbang cukup besar dalam morbiditas penyakit ini. (1,2,3,4)

Pada Darier disease ikatan-ikatan antar sel yang mempertahankan keutuhan kulit dapat terganggu, dan kulit menjadi tidak rata, bersisik, dan bahkan melepuh. Tingkat keparahannya bervariasi dan sulit diperkirakan. (1,2,3,4)

DEFINISI

Darier disease adalah suatu lesi kemerahan yang sulit hilang dan terjadi dalam keluarga. Lesi kemerahan ini seringkali terjadi pada masa remaja atau lebih tua. Paling sering mengenai dada, leher, punggung, telinga, dahi, dan dagu, namun dapat juga mengenai darah tubuh yang lain. Pada suatu waktu, lesi akan menghasilkan bau yang tidak sedap. Penyakit ini dapat juga mengenai kuku sehingga kuku mnejadi rapuh pada ujungnya dan membentuk huruf V seperti pada gambar dibawah ini. (1,2,3,4)

.

PATOFISIOLOGI

Mutasi pada gen ATP2A2 menyebabkan Darier disease (DD). ATP2A2, terletak pada pita 12q23-24.1, mengkodekan protein retikulum sarcoplasma/endoplasma Ca2+-ATP isoform 2 (SERCA2), yang merupakan suatu pompa kalsium. Pompa ini mempertahankan kadar Ca2+ dalam plasma tetap rendah dengan secara aktif membuang ion kalsium dari cytosol kedalam lumen reticulum endoplasma. Meskipun lebih dari 113 mutasi familial dan sporadic pada ATP2A2 telah diidentifikasi pada pasien DDs, usaha mengetahui korelasi genotype-phenotype masih belum berhasil. Anggota keluarga dengan mutasi identik ATP2A2 yang telah dikonfirmasi dapat menunjukan perbedaan dalam gambaran klinis dari penyakit, menunjukkan bahwa gen lain atau faktor lingkungan mempengaruhi gambaran DD. (1)

Meskipun pengejawantahan dari gen berbeda-beda, penetransi dari DD cukup tinggi, diperkirakan 95%. Karena mutasi penyebab penyakit pada ATP2A2 mempengaruhi fungsi domain dari gen, mekanisme transmisi dominan autosom dipercayai dengan insufisiensi haploid, dimana tipe liar tunggal dari ATP2A2 yang berfungsi tidak cukup untuk mencegah terjadinya peyakit. Tidak ada fenotip yang unik dari genetic homozygotes yang telah dilaporkan. (1)

Adhesi antar keratinosit yang abnormal dan keratinisasai epidermal yang menyimpang adalah gambaran histologis utama dari DD. Pemeriksaan dengan mikroskop Elektron menunjukan berkurangnya desmosom, pecahnya perlekatan filamen intermediasi desmosom-keratin, dan agregrasi perinuklear dari filamen intermediate keratin. Mekanisme dimana penurunan aktivitas pompa kalsium SERCA2 yang menyebabkan perubahan ini masih dalam penelitian. Penelitian awal mengajukan bahwa perubahan dalam pengaturan kalsium rdapat mempengaruhi sintesis, perlipatan, ataiu perpindahan dari protein desmosomal.. (1)

ETIOLOGI

Penyebab dan faktor resiko dari DD adalah sebagai berikut: (1,2,3)

§ Mutats pada gen yang dikenalsebagai ATP2A2.

§ Faktor-faktor lingkungan.

o Panas, kelembapan, dan paapran terhadap sinar matahari juga berefek pada ruam pada DD.

o Adanya riwayat dalam keluarga.

o Ruamnya seringkali memburuk pada musim panas, dikarenakan oleh panas dan kelembapan dan diperparah oleh sinar matahari \

KLINIS

Anamnesa

Kebanyakan apasien dengan DD memiliki riwayat keluarga untuk penyakit ini. Pola pewarisannya adalah dominan autosom. Namun demikian, beberapa pasien, sampai dengan 47% pada suatu penelitian, tidak punya riwayat keluarga yang jelas. Kasus semacam ini dapat mewakili mutasi sporadis, atau pasien mungkin memiliki keluarga dengan penyakit ini namun dengan gejala ringan. (1)

Lesi kulit pertama kali muncul pada usia remaja dan seringkali disertai dengan pruritus. (1)

§ panas, keringat, kelembapan, sinar matahari, ultraviolet B, lithium, kortikosteroid oral, dan truma mekanis trauma telah dilaporkan menyebabkan eksaserbasi dari penyakit ini. Beberapa pasien wanita melaporkan serangan terjadi pada saat menstruasi.

§ Maskipun tingkat keparahan DD berfluktuasi sepanjang waktu, DD adalah suatu keadaan kronis, dan tidak berulang. Dalam satu penelitian, sepertiga pasien mengalami perbaikan kondisi sesuai dengan penambahan usia; namun demikian, sekitar sepertiga pasien menunjukan perburuka sesaui dengan penambahan usia.

§ Meskipun kelainan neuropsykiatri seperti epilepsi, gangguan mental, dan gangguan mood telah dikaitkan dengan DD, tidak ada bukti yang mengindikasikan bahwa mutasi pada ATP2A2 berkaitan dengan gangguan ini.

Pemeriksaan Fisik(1)

§ Lesi mungkin pertama kali muncul sebagai papul sewarna kulit atau kuning kecoklatan dengan gambaran berminyak dan seperti kutil. Lesi ini terutama muncul pada daerah seborhoik seperti dahi, kulit kepala, batas kulit kepala, lipatan nasolabial, telinga, dada, dan punggung. Sekitar 80% pasien memiliki keterlibatan fleksura l=rignan dengan papul yang menyebar jarang pada dagu, axila, atau pada wanita, kulit dibawah mamae. Pada kurang dari 10% pasien, penyakit pada lipatan kulit adalah yang dominan, dengan plaq yang besar, pada axila, groin, atau perineum. Leksi pada lipatan yang besar ini sangat mengganggu pasien karena bau nya yang tidak sedap.

§ Keterlibatan tangan sangat sering (sekitar 95%). Lesipada telapak tangan termasuk juga keratoses punctata (80%), palmar pits (80%), dan makula hemoragik (<10%).>ATP2A2, menunjukan bahwa penyakit ini mungkin merupakan bentuk terlokalisir dari DD.

§ Perubahan pada kuku adalah suatu petunjuk diagnostik yang penting. Pita merah dan putih longitudinal, terpi kuku memanjang, pembelahan longitudinal, dan hiperkeratosis sub ungual seringkali ditemukan.

§ Lesi mukosa didapati pada sekitar 15% pasien, dan berupa papul putih dengan suatu pendangkalan di bagian tengah. Lesi semacam ini paling sering ditemukan pada mulut, namun dapat juga muncul pada mukosa anogenital.

§ Variasi klinis dari DD adalah tipe hiperkeratosis dan vesikobulosa. DD Linear atau segmental telah ditunjukan pada beberapa kasus disebabkan oleh gangguan genetik pada ATP2A2.

PENATALAKSANAAN

Pengaturan dasar(1,2,3,4)

§ Tabir surya, pakaian lembut dari katun, dan menghindari lingkungan yang panas dapat mencegah eksaserbasi, terutama pada musim panas.

§ Pelembab dengan urea atau asam laktat dapat mengurangi pergangan dan hiperkeratosis.

§ Steroid topikal potensi lemah sampai sedang terkadang berguna pada peradangan.

§ Jiika dicurigai pertumbuhan bakteri berlebihan atau krusta sangat banyakt, pemberian antiseptik seperti triklosan atau berendam dalam astringents seperti larutan Burrow atau Domeboro dapat membantu.

Pengobatan topikal(1)

§ Pada bberapa kasus dilaporkan bahwa retinoid topikal (adapalene, gel tazarotene 0.01%, tretinoin) dapat mengurangi hiperkeratosis dalam tiga bulan. Namun demikian, iritasi adalah faktor yang membatasinya.

§ Emollien dan kortikosteroid topikal dapat digunakan dengan kombinasi retinoid topikal untuk mengurangi iritasi.

Pengobatan Sistemik(1)

§ Retinoid Oral (cth, acitretin, isotretinoin, etretinate) telah terbukti sebagai pengobatan yang paling efektif untuk DD, pengurangfan gejala terjadi pada sekitar 90% pasien. Obat ini mengurangi hiperkeratosis, mengecilkan papul, dan mengurangi bau.

§ Acitretin efektif pada dosis 0.6 mg/kg/hari. Dosis awalnya 10-25 mg/hari, dan ditingkatkan bertahap sesuai toleransi.

§ Isotretinoin pada dosis 0.5-1.0 mg/kg/hari terutama berguna pada wanita usia produktif karena kehamilan hanya perlu dihindari satu bulan setelah menghentika pengobatan. Saayngnya, remisi yang lama, seperti yang dicatat terjadi pada penggunaan isotretinoin untuk akne yang parah tidak terjadi pada DD.

§ Etretinate has been reported useful if acitretin fails.

§ Penggunaan retinoid oral yang lama dibatasi oleh efek sampingannya, antara lain kekeringan mukosa, fotosensitivitas, hiperlipidemia, transaminitis, dan hyperostosis skeletal.

§ Antibiotik Oral seringkali diperlukan untuk membersihkan infeksi sekunder oleh karena bakteri.

Pembedahan(1)

§ Derm-abrasi telah digunakan untuk menghaluskan lesi hiperkeratosis dari DD, dengan hasil yang dapat diterima.

§ Bedah listrik dan bedah mikrograf Mohs telah digunakan untuk mengobati DD yang terlokalisir, dengan hasil yang baik.

DAFTAR PUSTAKA

1. Pui-Yan Kwok, MD, PhD, Wilson Liao, MD, Keratosis Follicularis (Darier Disease), Available at : http://www.emedicine.com/derm/byname/keratosis-follicularis-(darier-disease).htm

2. Darier Disease, Available at : www.skinsite.com

3. Darier's Disease - Symptoms & Treatment, available at : http://www.skin-disorders-guide.com/dariers-disease.htm

4. Darier's disease, available at :

http://www.lumen.luc.edu/MedEd/medicine/dermatology/melton/content.htm

Tidak ada komentar: